Peringatan Hari Kartini 2026, Muslimat NU Kajen Teguhkan Peran Perempuan sebagai Penggerak Moderasi Beragama

Picture2

KAJEN, mwcnukajen.or.id — Peringatan Hari Kartini Tahun 2026 menjadi momentum penting bagi Pimpinan Anak Cabang (PAC) Muslimat NU Kecamatan Kajen untuk meneguhkan peran perempuan dalam merawat kerukunan, memperkuat kepedulian sosial, dan menggerakkan moderasi beragama di tengah masyarakat. Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam bentuk pertemuan rutin Muslimat PAC Kajen di Desa Kutorojo, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, pada Sabtu (25/4/2026).

Kegiatan yang dihadiri pengurus dan anggota Muslimat NU se-Kecamatan Kajen itu berlangsung dalam suasana akrab, tertib, dan penuh semangat kebersamaan. Peringatan Hari Kartini tidak hanya dimaknai sebagai agenda seremonial, tetapi juga dijadikan ruang refleksi tentang pentingnya kiprah perempuan dalam membangun kehidupan sosial yang damai, rukun, dan saling menghormati.

Pertemuan rutin tersebut terasa istimewa karena turut menghadirkan sejumlah unsur lintas organisasi dan lintas keyakinan. Hadir dalam kegiatan itu antara lain pengurus ranting Aisyiyah, perwakilan PHDI atau Parisada Hindu Dharma Indonesia, LDII, serta Penghayat Kepribaden atau Kepercayaan. Kehadiran mereka menjadi gambaran nyata bahwa perbedaan latar belakang tidak menghalangi masyarakat untuk duduk bersama, bersilaturahmi, dan saling menguatkan dalam kebaikan.

Ketua PAC Muslimat NU Kecamatan Kajen, Dra. Hj. Khuzaemah, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya Muslimat NU untuk terus menanamkan nilai-nilai Islam wasathiyah atau Islam jalan tengah. Menurutnya, moderasi beragama harus dipahami sebagai sikap beragama yang seimbang, adil, menghargai perbedaan, serta menolak segala bentuk kekerasan dan permusuhan.

“Moderasi beragama tidak boleh berhenti sebagai istilah atau slogan. Nilai itu harus hadir dalam kehidupan sehari-hari, dalam keluarga, lingkungan, majelis taklim, dan pergaulan masyarakat,” tutur Hj. Khuzaemah.

Ia menjelaskan, Muslimat NU memiliki posisi strategis dalam menggerakkan moderasi beragama karena bersentuhan langsung dengan masyarakat akar rumput. Melalui majelis taklim, kegiatan rutin organisasi, pendidikan keluarga, dan gerakan sosial, Muslimat NU dapat menjadi jembatan penting dalam menyebarkan pesan damai, kasih sayang, serta persaudaraan.

Menurut Hj. Khuzaemah, perempuan mempunyai peran besar dalam membentuk karakter keluarga dan lingkungan. Ibu-ibu Muslimat, katanya, bukan hanya aktif dalam kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi pendidik pertama bagi anak-anak serta penggerak kehidupan sosial di tengah masyarakat.

“Perempuan memiliki kekuatan yang luar biasa. Dari keluarga, nilai toleransi, akhlak, cinta tanah air, dan kepedulian kepada sesama dapat ditanamkan sejak dini,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Muslimat PAC Kajen juga menegaskan bahwa moderasi beragama bukan berarti mengubah atau mengurangi ajaran agama. Agama diyakini telah mengajarkan nilai keselamatan, kedamaian, dan kemuliaan akhlak. Yang perlu dimoderasi adalah cara pandang dan perilaku umat beragama agar tidak terjerumus pada sikap ekstrem, baik dalam bentuk radikalisme, kekerasan, maupun sikap yang mengabaikan nilai agama dan kebangsaan.

Hj. Khuzaemah menambahkan, Nahdlatul Ulama sejak awal telah memiliki prinsip-prinsip dasar yang sejalan dengan moderasi beragama. Prinsip tersebut antara lain tawassuth atau mengambil jalan tengah, tawazun atau menjaga keseimbangan, i’tidal atau bersikap lurus dan adil, serta tasamuh atau toleran terhadap perbedaan.

Nilai-nilai tersebut, lanjutnya, harus terus dipraktikkan oleh warga NU, termasuk Muslimat NU, dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, ajaran agama tidak hanya hadir dalam bentuk ibadah personal, tetapi juga tercermin dalam sikap sosial yang menyejukkan.

“Bagi warga NU, mencintai tanah air adalah bagian dari iman. Karena itu, menjaga persatuan, menghormati Pancasila dan UUD 1945, serta merawat kerukunan merupakan bagian dari tanggung jawab keagamaan sekaligus kebangsaan,” kata Hj. Khuzaemah.

Kegiatan Muslimat PAC Kajen di Desa Kutorojo tersebut sekaligus menjadi contoh penerapan empat pilar moderasi beragama. Empat pilar itu meliputi komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, serta penerimaan terhadap tradisi lokal yang tidak bertentangan dengan prinsip dasar agama.

Wujud toleransi terlihat dari keterbukaan panitia dalam menerima tamu dari berbagai unsur masyarakat. Semua peserta hadir dalam suasana saling menghormati, tanpa memandang perbedaan organisasi, keyakinan, maupun latar belakang sosial. Semangat kebersamaan itu menjadi bukti bahwa moderasi beragama dapat tumbuh kuat ketika masyarakat bersedia membuka ruang dialog dan silaturahmi.

Sebagai bentuk penghargaan atas kehadiran para tamu lintas unsur, panitia memberikan suvenir kepada perwakilan perempuan Hindu, Aisyiyah, dan LDII. Pemberian suvenir tersebut menjadi simbol persaudaraan dan penghormatan, sekaligus menegaskan bahwa perempuan dapat berperan aktif sebagai penjaga harmoni sosial di tengah keberagaman.

Selain mengangkat tema moderasi beragama, kegiatan pertemuan rutin Muslimat PAC Kajen juga diisi dengan aksi sosial. PAC Muslimat NU Kecamatan Kajen memberikan santunan kepada anak yatim dan lansia dhuafa di wilayah Desa Kutorojo. Bantuan tersebut diberikan sebagai bentuk kepedulian terhadap warga yang membutuhkan, sekaligus memperkuat pesan bahwa kegiatan keagamaan harus membawa manfaat nyata bagi masyarakat.

Aksi sosial itu mendapat sambutan positif dari warga dan pemerintah desa setempat. Santunan kepada anak yatim dan lansia dhuafa menjadi bagian dari komitmen Muslimat NU untuk terus hadir di tengah masyarakat, tidak hanya dalam bidang dakwah dan pendidikan, tetapi juga dalam pelayanan sosial.

Dalam kegiatan yang sama, LAZISNU turut menyalurkan bantuan untuk masjid di Desa Kutorojo. Bantuan tersebut diserahkan kepada Kepala Desa Kutorojo, Dlajat, bersama Kaur Kesra setempat. Penyerahan bantuan ini diharapkan dapat mendukung kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan di desa tersebut.

Kepala Desa Kutorojo, Dlajat, menyampaikan apresiasi kepada PAC Muslimat NU Kecamatan Kajen dan LAZISNU atas pelaksanaan kegiatan yang membawa banyak manfaat bagi warga. Menurutnya, kegiatan seperti ini sangat penting karena mampu mempererat hubungan sosial, memperkuat kepedulian, dan menjaga suasana kerukunan di desa.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada Muslimat NU Kecamatan Kajen dan LAZISNU. Kegiatan ini bukan hanya mempererat silaturahmi, tetapi juga memberikan perhatian kepada warga kami, terutama anak yatim dan lansia dhuafa,” ungkap Dlajat.

Ia berharap kegiatan keagamaan dan sosial seperti itu dapat terus dilakukan secara berkelanjutan. Pemerintah desa, katanya, selalu terbuka terhadap kegiatan masyarakat yang membawa nilai kebaikan, memperkuat persatuan, dan membantu warga yang membutuhkan.

Menurut Dlajat, kehadiran Muslimat NU di Desa Kutorojo memberi semangat positif bagi masyarakat. Selain memperkuat aktivitas keagamaan, kegiatan tersebut juga menjadi contoh bahwa organisasi kemasyarakatan dapat bersinergi dengan pemerintah desa dalam membangun kehidupan sosial yang lebih baik.

Peringatan Hari Kartini yang digelar Muslimat PAC Kajen tahun ini menjadi semakin bermakna karena menghadirkan perpaduan antara dakwah, penguatan kebangsaan, toleransi, dan kepedulian sosial. Semangat Kartini diterjemahkan dalam tindakan nyata, yaitu menguatkan peran perempuan sebagai pendidik, penggerak masyarakat, penjaga kerukunan, dan pelayan umat.

Melalui pertemuan rutin di Desa Kutorojo, PAC Muslimat NU Kecamatan Kajen menunjukkan bahwa moderasi beragama dapat dimulai dari ruang-ruang sederhana yang dekat dengan masyarakat. Majelis taklim, kegiatan organisasi perempuan, silaturahmi lintas unsur, dan aksi sosial menjadi sarana efektif untuk menanamkan nilai damai dan saling menghargai.

Dengan mengusung nilai Islam wasathiyah, Muslimat NU Kajen menegaskan komitmennya untuk terus menjadi bagian penting dalam gerakan moderasi beragama di tingkat akar rumput. Dari tangan para perempuan, nilai persaudaraan, kepedulian, toleransi, dan cinta tanah air dapat terus tumbuh, mengakar, dan memberi manfaat bagi kehidupan masyarakat yang majemuk dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kontributor: Malichatun

Editor: Syaikhul Alim

Bagikan: